Dulu ku pernah mendengar sebuah cerita lama tentang seorang ayah dan anaknya .
Pada suatu senja disebuah rumah sederhana di tepi sebuah desa ada seorang ayah dan anaknya yang masih berumur tiga tahun. Mereka bercanda dan tertawa - tawa hingga ahirnya sang anak bertanya pada ayahnya " ayah benda apakah yang yang ada diatas pohon itu ? ", tanyanya polos . Sambil menunjuk dan merangkul sang anak dia tersenyum dan berkata " itu burung hantu anak ku " jawab sang ayah. Tak sampai disitu saja sang anak terus mengulangi pertanyaan yang sama hingga ia tertidur , dengan sabar sang ayah menjawab pertanyaan anaknya tanpa ada rasa marah sedikitpun. Tapi kini sang anak telah tumbuh menjadi pria dewasa dan tidak tinggal lagi bersama ayahnya dan seiring halnya itu ayahnya pun telah jadi ayah yang tua dan rapuh . Suatu saat anak itu pulang kerumahnya , rumah yang penuh kenangan cinta orang tuanya. Di senja hari di bangku yang sama mereka bercengkrama dan saling berkelakar dan sang anak pun berucap pada ayahnya betapa ia sangat sayang pada ayahnya, hingga sang ayah bertanya pada anaknya " anak ku burung apakah itu yang ada diatas dahan ? " , sambil tersenyum sang anak menjawab " oh, itu burung hantu ayah ". Tapi tidak sampai disitu saja, sang ayah terus mengulangi pertanyaan yang sama pada anaknya , hingga anaknya menjadi marah dan berkata " aduh, ayah kan sudah kukatakan berulang kali , kenapa masih terus saja bertanya hal yang sama. Itu burung hantu! burung hantu ayah! " . Mendengar perkataan anaknya ia pun menunduk dan menangis , sebenar ia sudah tau bahwa yang yang ada ditas dahan itu adalah seekor burung hantu tapi ia hanya ingin tau seberapa besar rasa kasih sayang anaknya terhadapnya. Dengan wajah yang tertunduk dan hati yang terluka sang ayah berkata pada adaknya " beberapa puluh tahun saat kau masih kecil kau pernah menanyakan hal yang sama pada ayah dan kaupun terus mengulanginya hingga kaupun tertidur begitu pula aku selalu menjawab pertanyaanmu dengan senyum karena rasa sayang ku padamu" . Dan sesaat kemudian sang ayah terdiam dan di saat saat itu pula sang anak menangis dan merangkul erat sang ayah dan anak dia pun meminta maaf atas semua perbuatannya. Kini dia sadar seberapa keras pun dia berujar pada dunia betapa ia mencintai orang tuanya dia tak akan pernah mampu membalas cinta kasih orang tuanya kepadanya.
Cerita diatas bukanlah sekedar dongeng pengantar tidur tapi itu adalah cerita yang real terjadi di kehidupan kita , bahwa tanpa kita sadari begitu sering kita menyakiti hati orang tua kita sekalipun kita belum bisa membalas kebaikannya. Sekarang renungkanlah dalam hatimu apakah kamu termasuk anak yang ingin menyenangkan hati orang tuamu atau TANPA kamu SADARi kamu justu senang menyakiti hati mereka. Itu semua hanya kamu sendiri yang tau. Dan jika kamu termasuk orang yang kedua cepatlah kau temui orangtua mu dan mintalah permohonan maaf darinya walupun kita sendiri telah tau bahwa tanpa meminta maaf sekalipun mereka telah memaafkan kita.